Harap Tunggu


img_head
BERITA

Kopi Bali Pertama di Tahun 2024

Jan16

Konten : berita humas
Telah dibaca : 124 Kali
Tanggal Upload : 16 January 2024


Denpasar – Selasa (16/01/2024) pukul 09.00 WITA, Pengadilan Tinggi Denpasar mengadakan kegiatan Kopi Bali pertama di Tahun 2024. Kopi Bali atau Komunikasi dan Koordinasi Pagi Bersama Aparatur Pengadilan Negeri yang rutin diselenggarakan oleh Pengadilan Tinggi Denpasar dengan memanfaatkan ruangan command center dan aplikasi zoom meeting ini selalu mengangkat topik bahasan yang berbeda disetiap kegiatannya. Untuk topik utama bahasan Kopi Bali kali ini adalah terkait restorative justice.

Restorative justice dapat diartikan sebagai penyelesaian tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku, keluarga korban, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat atau pemangku kepentingan untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil melalui perdamaian dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula. Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar H. Mochamad Hatta, S.H.,M.H., yang memimpin jalannya Kopi Bali menekankan tentang pentingnya persamaan persepsi mengenai restorative justice dengan melihat perkembangan yang ada pada masyarakat. Hal tersebut menjadi penting karena putusan yang menggunakan pendekatan keadilan restoratif manjadi salah satu Indikator Kinerja Utama (IKU) Pengadilan Tingkat Pertama Lingkungan Peradilan Umum.

Ruang lingkup pemberlakuan pedoman penerapan restorative justice juga telah diatur dalam Surat Keputusan Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum Mahkamah Agung RI Nomor: 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020, yang meliputi;

  1. perkara tindak pidana ringan (Tipiring) yaitu pasal 364, 373, 379, 384, 407, dan 482 KUHP (nilai kerugian <Rp.2.500.000 sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung ( Perma)  Nomor 2 Tahun 2012);
  2. perkara anak;
  3. perkara narkortika; dan
  4. perkara perempuan yang berhadapan dengan hukum.

Bapak Mochamad Hatta juga menyampaikan asas dalam mengadili dengan pendekatan keadilan restorative yaitu pemulihan keadaan, penguatan hak, kebutuhan dan kepentingan korban, tanggung jawab terdakwa, pidana sebagai upaya terakhir, konsensualitas, dan transparansi serta akuntabilitas. Dimana tujuan dari mengadili perkara pidana berdasarkan keadilan restoratif sendiri adalah untuk memulihkan korban tindak pidana, memulihkan hubungan antara terdakwa, korban, dan / atau masyarakat, menganjurkan pertanggungjawaban terdakwa, dan menghindarkan setiap orang khususnya anak dari perampasan kemerdekaan.

Dalam kegiatan Kopi Bali yang di hadiri oleh Wakil Ketua, perwakilan Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Denpasar, dan seluruh Ketua Pengadilan Negeri se-Bali berserta jajaran ini, Bapak Mochamad Hatta juga mengeluarkan Surat Edaran Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar Nomor 1 Tahun 2024 tentang Ruang Lingkup Restorative Justice Untuk Penetapan Target Dalam Indikator Kinerja Utama Peradilan Umum Tingkat Pertama Pada Wilayah Hukum Pengadilan Tinggi Denpasar.

Dengan terus terselenggaranya kegiatan Kopi Bali ini diharapkan mampu untuk mempererat hubungan Pengadilan Tinggi Denpasar selaku voorpost Mahkamah Agung dengan Pengadilan Negeri di bawahnya, demi memberikan pelayanan prima dan peningkatan kinerja yang lebih baik kedepannya bagi para pencari keadilan di wilayah Bali.

Kopi Bali, Siap Melayani !!!

  • Galeri